Situs web kami menggunakan cookie untuk meningkatkan dan mempersonalisasi pengalaman Anda dan untuk menampilkan iklan (jika ada). Situs web kami mungkin juga menyertakan cookie dari pihak ketiga seperti Google Adsense, Google Analytics, Youtube. Dengan menggunakan situs web, Anda menyetujui penggunaan cookie. Kami telah memperbarui Kebijakan Privasi kami. Silakan klik tombol untuk memeriksa Kebijakan Privasi kami.

5 Tempat Wisata Sejarah di Surabaya, Saksi Perjuangan Pahlawan

Tempat wisata sejarah di Surabaya bisa kamu kunjungi untuk mengenal peristiwa penting perjuangan untuk mendapatkan Kemerdekaan Indonesia. Masyarakat di seluruh negara ini sangat mengenal kisah heroik yang pernah terjadi di Surabaya, yaitu peristiwa 10 November 1945.

Ratusan pejuang Surabaya bersatu mempertaruhkan nyawa agar mempertahankan Kemerdekaan RI, berbekal senjata bambu runcing melawan tentara Sekutu. Perang bersejarah tersebut, membuat Surabaya dijuluki Kota Pahlawan. Hingga hari ini, peristiwa pemberontakan November tanggal 10 ditetapkan sebagai Hari Pahlawan.

Peristiwa pemberontakan pejuang Suroboyo melawan Sekutu tentu melalui berbagai proses. Tempat-tempat bersejarah tersebar luas di kota itu dan menjadi saksi penting perjuangan pahlawan. Lokasi bersejarah tersebut menjadi tempat pertempuran yang mengakibatkan pertumpahan darah. Di zaman Kemerdekaan ini, hampir semua tempat bersejarah tersebut dijadikan objek wisata.

Mengenal 5 Tempat Wisata Sejarah di Surabaya

Gedung atau lokasi bersejarah biasanya memiliki keunikan, dari segi bangunan maupun benda-benda peninggalan. Hal tersebut membuat sebagian besar wisatawan berkunjung untuk mempelajari sejarah atau mendapatkan spot foto yang unik. Terdapat berbagai kunjungan sejarah di Surabaya yang bisa kamu lakukan, diantaranya :

Gedung Siola

Gedung yang sempat direnovasi oleh Pemkot Surabaya ini terletak di tengah kota, tepatnya Jl. Tunjungan. Gedung ini dibangun pada tahun 1800-an oleh Robert Laidlaw, fungsinya adalah untuk menjalankan bisnisnya. Pada tahun 1935, kepemilikan Gedung Siola atas keluarga Laidlaw akhirnya dibeli oleh pengusaha Jepang.

Hadirnya Sekutu, menjadikan Jepang tunduk dan mengosongkan gedung tersebut. Tahun 1945, Siola menjadi tempat pertahanan arek-arek Suroboyo untuk menghindar dari serangan Sekutu. Pertempuran besar membuat Gedung Siola hancur, kemudian akhirnya direnovasi pada tahun 1960, sekaligus resmi dinamai Gedung Siola.

Jembatan Merah

Jembatan ini terbentang menghubungkan Jalan Rajawali dengan Jalan Kembang Jepun. Terkenal warna merah khasnya, jembatan ini juga memiliki cerita sejarah perjuangan pahlawan Surabaya. Makna “merah” dari warna dan penyebutannya merepresentasikan kisah penewasan yang cukup suram.

Tempat ini menjadi saksi terjadinya pertumparan darah yang dahsyat serta tewasnya Pemimpin Angkatan Bersejarah asal Inggris, yaitu Brigadir A.W.S Mallaby. Objek wisata jembatan tersebut berdiri sejak ratusan tahun silam atas kesepakatan Pakubuwono II dari Mataram dengan VOC pada tahun 1743.

Markas Internatio

Gedung ini sempat menjadi markas tentara Sekutu untuk menyusun strategi mempersiapkan antisipasi perlawanan pejuang Suroboyo. 30 Oktober 1945, pasukan pejuang Suroboyo berhasil mengepung pasukan penjajah. Hari itu, menjadi peristiwa sengit yang memicu terjadinya perang 10 November.

Penyebanya adalah, tewasnya Brigadir A.W.S Mallaby yang saat itu terdesak, ketika berusaha lari dan melewati Jembatan Merah, Pimpinan tentara Inggris tersebut tertembak mati. Peristiwa tersebut menjadikan Gedung Internatio sebagai saksi meletusnya peristiwa 10 November 1945.

Hotel Yamato / Majapahit

Tempat wisata sejarah di Surabaya ini berlokasi di daerah Tunjungan dan menyimpan kejadian penting pemberontakan rakyat Surabaya terhadap penjajah, khususnya Belanda. Pengibaran bendera Belanda membuat pejuang Suroboyo melakukan perlawanan di depan Yamato yang kini berubah nama menjadi Majapahit.

Majapahit didirikan sejak tahun 1910, menjadi tempat pertempuran pada 19 September 1945. Ketika Residen Sudirman meminta kepada Ploegman sebagai perwakilan sekutu agar Bendera Belanda diturunkan. Namun, permintaan tersebut ditolak dan mengakibatkan ricuhnya arek-arek Suroboyo melakukan penyobekan warna biru pada Bendera Belanda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Tidak Kalah Menarik