Situs web kami menggunakan cookie untuk meningkatkan dan mempersonalisasi pengalaman Anda dan untuk menampilkan iklan (jika ada). Situs web kami mungkin juga menyertakan cookie dari pihak ketiga seperti Google Adsense, Google Analytics, Youtube. Dengan menggunakan situs web, Anda menyetujui penggunaan cookie. Kami telah memperbarui Kebijakan Privasi kami. Silakan klik tombol untuk memeriksa Kebijakan Privasi kami.

Acara Grebeg Suran Baturraden yang Dilaksanakan Warga Banyumas

Selain makanan tradisionalnya yang enak, tradisi grebeg suran Baturraden yang diselenggarakan oleh warga Purwokerto, Banyumas juga menjadi daya tarik masyarakat dan wisatawan. Acara ini biasanya diselenggarakan pada Sura, bulan pertama penanggalan Jawa.

Salah satu cara untuk meningkatkan traffic wisatawan ke Banyumas memang dengan menggelar acara adat budaya. Selain menarik hati karena unik, juga melewstarikan kebudayaan yang telah ada sejak zaman dulu.

Meski sekarang warga Banyumas khususnya yang tinggal di daerah Purwokerto kebanyakan menganut agama Islam, grebeg suran Baturraden tidak lupa diadakan. Seperti apa asal mulainya dan proses berlangsungnya acara? Simak penjelasan berikut.

Asal Mula Adanya Grebeg Suran Baturraden

Acara adat budaya setempat, memang selalu berhasil mengundang daya tarik wisatawan. Karena memang, salah satu tujuan mereka datang ke suatu tempat, selain berekreasi, juga mengenal budaya daerah tersebut.

Jika Kamu datang ke Banyumas, tepatnya daerah Baturraden pada bulan Sura awal, pasti akan melihat sebuah acara adat budaya bernama grebeg suran Baturraden. Tujuan dari diadakannya adat ini adalah mengucap syukur kepada Tuhan yang Maha Esa.

Ucapan syukur, karena warga tersebut sudah mendapat keberkahan luar biasa dari Tuhan. Sehingga ditunjukkan dengan menggelar adat grebeg suran ini bersama dengan para warga. Lalu, bagaimana asal mulai dari acara ada satu ini?

Pelaku wisata setempat bernama Tekad Santoso menuturkan, bahwa tradisi budaya ini berawal dari tradisi para penganut kepercayaan yang memang tinggal di pegunungan. Karena ini di Baturraden, tentu saja gunung Slamet.

Zaman dulu sebelum ajaran agama masuk ke wilayah tersebut, cara leluhur untuk mengucapkan syukur kepada sang pencita, yaitu dengan mengadakan acara grebeg suran ini.

Untuk zaman sekarang, hanya diadakan selain mengucap syukur, serta melestarikan budaya setempat. Terbukti, wisatawan yang datang ke lokawisataBaturraden ketika melihat acara tersebut, sangat tertarik.

Baturraden sekarang memang menjadi tempat wisata alam yang banyak menarik perhatian orang dari daerah luar. Bisa untuk healing setelah lelah bekerja. Kebetulan juga tempatnya tepat di bawah kaki gunung Slamet.

Prosesi grebeg suran Baturraden sendiri sebenarnya hanya arak-arakan biasa. Tapi ada makna tersembunyi di dalamnya. Jadi, susunan acaranya juga harus berurutan.

Susunan Acara Gebeg Suran yang Diadakan Warga Banyumas

Mungkin Kamu masih penasaran bagaimana prosesi grebeg suran Baturraden itu sebenarnya. Apakah hanya mengucap syukur saja, atau ada susunan acaranya? Jadi, nanti ada iring-iringan warga membawa hasil panen bumi.

Hasil panen bumi sendiri diantaranya adalah ummbi-umbian, sayur serta buah, pala kependhem, pala kesimpan dan pala gemantung. Kemudian, disusun seperti gunungan. Saking banyaknya hasil panen tersebut, tingginya sampai 2-3 meter.

Gunungan tersebut juga menyimbolkan rasa syukur kepada Tuhan yang Maha Esa, seperti para leluhur di masa lalu. Nanti akan dilakukan pawai di sekitar lokawisata Baturraden, tepatnya Desa Karangmangu, Kecamatan Baturraden.

Namun, sebelum diadakan pawai tersebut, sebelumnya akan dilakukan pendakian ke gunung Slamet, disertai dengan ritual tapa bisu. Berbeda dengan tradisi Sura lainnya, grebeg di Btuuraden tidak diadakan pada malam tahun baru Islam langsung.

Warga setempat memulai upacaranya bertepatan dengan kalender jawa yaitu Minggu pon. Jadi, nantinya setelah gunungan tersebut dibawa pawai, akan direbut oleh para warga.

Hasil bumi yang didapat oleh warga itu, dibawa pulang kemudian dimasak di rumah untuk dimakan bersama dengan keluarga. Untuk yang mendapatkan biji, nanti ditanam untuk bisa tumbuh serta menghasilkan panen berlimpah.

Meski berdesakan, tapi warga tidak hilang semangat untuk memprebutkan gunungan tersebut. Bahkan wisatawan yang kebetulan melihat upacara grebeg suran Baturraden, juga ikut berebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Tidak Kalah Menarik