Situs web kami menggunakan cookie untuk meningkatkan dan mempersonalisasi pengalaman Anda dan untuk menampilkan iklan (jika ada). Situs web kami mungkin juga menyertakan cookie dari pihak ketiga seperti Google Adsense, Google Analytics, Youtube. Dengan menggunakan situs web, Anda menyetujui penggunaan cookie. Kami telah memperbarui Kebijakan Privasi kami. Silakan klik tombol untuk memeriksa Kebijakan Privasi kami.

Ciri Khas Budaya Pernikahan Batak dengan Maknanya

Budaya pernikahan Batak seringkali menjadi sorotan bagi masyarakat di Indonesia karena dirasa memiliki proses panjang dan cukup rumit. Namun meski begitu pernikahan dalam adat batak menjadi populer dan menarik karena terdapat ciri khas dalam budaya tersebut serta makna yang tersirat.

SONY DSC

Indonesia memiliki banyak suku yang masing-masing suku memiliki adat dan budaya berbeda-beda serta cukup unik. Salah satunya ada suku Batak yang memiliki banyak cabang lagi yaitu Batak Toba, Batak Karo, Batak Simalungun, dan batak lainnya dengan adanya perbedaan adat budaya pada masing-masingnya.

Meskipun sering dikategorikan dalam satu suku namun perbedaannya cukup signifikan antara Batak Toba dengan Batak lain. Kali ini kita akan membahas budaya pernikahan suku batak pada umumnya namun lebih banyak mengenai adat batak toba yang kendatinya lebih banyak dikenal oleh masyarakat umum di Indonesia.

Suku Batak memiliki karakteristik yang cukup unik seperti suaranya besar dan lantang, serta panggilan pada setiap posisi dalam keluarga. Maka dari itu mengenal budaya pernikahan Batak juga menjadi keunikan bagi pribadi masyarakat suku Batak bahkan suku lainnya yang memungkinkan untuk memiliki koneksi di lingkungan sekitar.

Prosesi Budaya Pernikahan Batak Cukup Panjang

Dalam adat Batak terdapat prosesi pernikahan yang cukup panjang seperti pada suku Jawa, dan masing-masing prosesi ini juga memiliki maknanya. Di bawah ini ada urutan prosesi budaya pernikahan pada suku Batak.

  1. Mangarisika

Ini artinya kunjungan dari pihak laki-laki ke tempat kediaman pihak perempuan dengan tidak resmi untuk melakukan penjajakan. Pada umumnya saat datang ke rumah pihak pria datang dengan membawa cincin emas atau kain. Namun di zaman saat ini sudah banyak yang tidak melakukan adat ini lagi.

  1. Marhusip-Husip

Dalam bahasa Indonesia marhusip artinya berbisik, di mana maksud dari budaya pernikahan batak satu ini adalah membicarakan mengenai seberapa besar uang beli dari pihak laki-laki ke pihak perempuan atau yang sering disebut dengan harga sinamot.

  1. Marhata Sinamot

Selanjutnya budaya pernikahan akan dilanjutkan ke marhata sinamot yang berarti saat di mana pihak laki-laki membeli pihak perempuan. Jangan bingung membeli dalam budaya batak bukan benar-benar dibeli namun lebih ke acara pemberian mahar, diskusi mengenai tanggal pernikah, sampai jumlah undangan dan lain sebagainya.

  1. Martumpol

Jika ketiga prosesi di atas dilakukan di rumah, maka kegiatan martumpol akan diadakan di gereja dengan disaksikan oleh pihak-pihak yang sudah ditentukan atau tamu undangan dari kedua calon mempelai. Pada umumnya prosesi ini dilakukan dua sampai tiga minggu sebelum waktu pernikahan.

  1. Martonggo Raja

Masuk ke prosesi pembentukan panitia atau yang disebut dengan parhobas, di mana saat ini akan dibahas mengenai pesta besar dalam budaya pernikahan Batak. Acara martonggo raja dilakukan di tempat kediaman masing-masing mempelai.

  1. Manjalo Pasu-Pasu Parbagason

Acara ini menjadi yang paling ditunggu-tunggu oleh kedua mempelai saat pernikahan dalam suku Batak. Di mana kedua mempelai dipersatukan di gereja, sering juga disebut dengan Pemberkatan Pernikahan.

  1. Pesta Unjuk

Acara ini dilakukan di hari bersamaan atau hari selanjutnya setelah pemberkatan pernikahan. Di acara ini kedua mempelai akan mendapatkan doa-doa dan dilakukan pemberian ulos dan yang paling khas dari kegiatan ini yaitu pembagian jambar dan uang mahar pada pihak perempuan dan pihak pria mendapatkan ulos serta ikan mas (dengke).

  1. Dialap Jual/Ditaruhon Jual, Paulak Une, Manjae, Maningkir Tangga

Sebenarnya saat ini banyak adat pernikahan yang sudah tidak melakukan prosesi ini sehingga banyak tidak mengenalinya. Prosesi ini biasanya menjadi acara silaturahmi dari pihak laki-laki ke wanita begitu juga sebaliknya dengan balasan yang sudah disesuaikan.

Meski kelihatan cukup panjang dan ribet namun, bagi warga suku Batak ini merupakan adat budaya pernikahan Batak yang harus dilestarikan dan diteruskan oleh generasi selanjutnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Tidak Kalah Menarik