Situs web kami menggunakan cookie untuk meningkatkan dan mempersonalisasi pengalaman Anda dan untuk menampilkan iklan (jika ada). Situs web kami mungkin juga menyertakan cookie dari pihak ketiga seperti Google Adsense, Google Analytics, Youtube. Dengan menggunakan situs web, Anda menyetujui penggunaan cookie. Kami telah memperbarui Kebijakan Privasi kami. Silakan klik tombol untuk memeriksa Kebijakan Privasi kami.

Contoh Budaya Lokal Blitar “Siraman Gong Kyai Pradah”

Setiap daerah memiliki budaya lokal yang wajib dilestarikan. Sedangkan Blitar juga mempunyai contoh budaya lokal, yang bisa menjadi kekayaan daerah sekaligus budaya nasional di Indonesia jika terus dipromosikan dengan baik.

Salah satu budaya di Blitar yang masih jarang diketahui oleh masyarakat luas, maupun masyarakat luar kota adalah “Siraman gong Kyai Pradah”. Padahal tradisi ini telah dilakukan secara turun temurun oleh masyarakat diwilayah tersebut.

Hal tersebut kembali menegaskan bahwa prosesi acara “Siraman Gong Kyai Pradah” mampu menjadi daya tarik wisata jika bisa dimaksimalkan promosi dan pelestariannya. Hal ini juga menjadi salah satu pilihan wisata terbaik, yang bisa kamu kunjungi saat berkunjung di Blitar.

Pengertian Contoh Budaya Lokal Blitar “Siraman Gong Kyai Pradah”

Tradisi Siraman Gong Kyai Pradah merupakan salah satu agenda tahunan, yang dilakukan oleh masyarakat di wilayah Kabupaten Blitar. Hal ini sudah dilakukan secara turun temurun dari kegenerasi ke generasi selanjutnya. Hingga saat ini budaya tersebut masih dilakukan.

Gong Kyai Pradah sendiri merupakan salah satu contoh budaya lokal pusaka berbentuk gong, yang telah berusia puluhan tahun. Agenda siraman ini secara langsung dilakukan oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Blitar, untuk melestarikan salah satu budaya bangsa Indonesia.

Selain itu Siraman Gong Kyai Pradah juga merupakan aset budaya lokal dan budaya nasional, yang wajib dilestarikan oleh semua masyarakat. Terutama bagi masyarakat Blitar agar tetap bisa melindungi aset budaya dan cagar budaya yang terus bergeser oleh budaya asing.

Sejarah Singkat Contoh Budaya Lokal Blitar “Siraman Gong Kyai Pradah”

Sejarah singkat mengenai tradisi ini secara langsung dikutip melalui cerita babat Tanah Jawi ditahun 1704 sampai 1719 Masehi. Pada awalnya tradisi ini berawal dari saudara tua Raja Surakarta, Susuhunan Paku Buwono I yaitu Pangeran Prabu.

Hal ini diawali dengan keinginan Pangeran Prabu yang ingin menjadi raja karena merasa sebagai saudara tertua, namun bukan lahir dari seorang Permaisuri. Pangeran Prabu ingin membunuh Raja Surakarta namun keinginan tersebut diketahui dan akhirnya dihukum.

Pangeran Prabu dihukum untuk membuka hutan di daerah Lodoyo, Blitar dan diberikan pusaka berupa bende Kyai Pradah. Singkat cerita pusaka tersebut diberikan kepada Nyi Partasuta yang harus rutin memandikan gong tersebut setiap tanggal 1 Syawal.

Teknis Pelaksanaan Siraman Gong Kyai Pradah

Tradisi ini menjadi salah satu contoh budaya lokal di Blitar, yang dilaksanakan oleh masyarakat dari daerah Lodoyo dan diikuti oleh berbagai masyarakat lain. Pelaksanaan upacara ini dilakukan pada tanggal 1 Syawal atau setiap 12 Rabiul Awal.

Pelaksanaannya sedikit berbeda dengan upacara adat lainnya. Sedangkan untuk pelaksanaan Siraman Gong Kyai Pradah bisa kamu ketahui dalam penjelasan di bawah ini.

  1. Sebelum tanggal 1 Syawal atau 12 Rabiul Awal panitia acara harus menyiapkan tempat upacara siraman gong. Acara ini akan dihadiri oleh berbagai lapisan masyarakat dari Blitar dan luar kota.

Selain itu secara resmi Bupati dan Wakil Bupati juga ikut hadir bersama dengan juru kunci atau sesepuh. Acara ini termasuk salah satu agenda resmi yang dilakukan oleh pemerintah Kabupaten Blitar.

  1. Dilanjutkan dengan pemotongan kambing yang akan digunakan sebagai sesaji pada acara ini. Setelah itu panitia membuat berbagai macam sesaji yang diperlukan dalam Siraman Gong Kyai Pradah.
  2. Sebelum siraman dilakukan maka diawali dengan beberapa susunan acara yang telah disiapkan, seperti tirakatan bersama, ziarah dan dilanjutkan dengan siraman.
  3. Setelah pelaksanaan acara “Siraman Gong Kyai Pradah” selesai dilakukan, maka terdapat beberapa agenda penutupan, seperti selamatan, acara hiburan dan beberapa penutupan sepasaran maupun selapanan.

Sepasaran sendiri merupakan acara penutupan setelah jangka waktu satu minggu dari pelaksanaan acara. Sedangkan untuk selapanan merupakan jangka waktu setelah 30 hari acara dilakukan.

Indonesia mempunyai kekayaan budaya yang sangat melimpah dibandingkan dengan negara lain. Contoh budaya lokal Blitar menjadi salah satu sumber kekayaan budaya nasional yang harus dilestarikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Tidak Kalah Menarik