Situs web kami menggunakan cookie untuk meningkatkan dan mempersonalisasi pengalaman Anda dan untuk menampilkan iklan (jika ada). Situs web kami mungkin juga menyertakan cookie dari pihak ketiga seperti Google Adsense, Google Analytics, Youtube. Dengan menggunakan situs web, Anda menyetujui penggunaan cookie. Kami telah memperbarui Kebijakan Privasi kami. Silakan klik tombol untuk memeriksa Kebijakan Privasi kami.

Kisah Lawang Sewu dengan Sejuta Misteri di Dalamnya

Bagi warga wilayah Jawa Tengah, kisah lawang sewu tentunya tidak lagi asing dengan salah satu tempat wisata yang terdapat di kota Semarang ini. Bangunan bersejarah hasil dari peninggalan Belanda ini memiliki berbagai misteri besar di belakangnya. Namun ternyata hanya sedikit orang yang tahu tentang beberapa sejarah misteri bangunannya.

Karena ada banyak sekali cerita terunik yang beredar tentang bangunan bersejarah satu ini. Kata ini jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia mempunyai arti seribu pintu. Hal tersebut diambil dari analogi pada bangunannya yang mempunyai pintu yang kuantitasnya sangat banyak, namun sebenarnya tidak sampai pada jumlah seribu di masing-masing pintu tersebut. Kenyataannya, hanya ada 429 pintu saja di dalamnya.

Dengan banyaknya jendela yang bisa ditemukan pada bangunan tersebut, menjadikannya lebih sering dikira sebagai pintu dari lawang sewu sendiri. Dengan tampilannya yang lengkap, terdiri dari tiga lantai dan juga dua sayap bangunan yang meluas menuju bagian kanan serta sebelah kiri. Jika masuk melalui sebuah gedung utama, maka akan mendapati tangga besar menjulang tinggi yang digunakan untuk menuju ke lantai dua.

Ketahui Awal Berdirinya Bangunan Bersejarah Berikut

Bangunan yang terdapat sejuta misteri beserta sejarah dari kisah lawang sewu ini, diduga mulai dibangun sejak 27 Februari 1904 oleh para penjajah Belanda yang bertempat Indonesia pada waktu itu. Pengerjaan bangunan tersebut selesai di tahun 1907. Karena pada awalnya memiliki fungsi menjadi sebuah kantor pusat dari perusahaan kereta api swasta, dan masih dengan masih bernama Nederlands Indische Spoorweg Maatschappj.

Kemudian perusahaan ini akhirnya membangun sebuah jalur kereta api tersebut akan menghubungkan daerah Surakarta, Yogyakarta, dan Semarang. Pertama kali pembangunan jalur tersebut dilakukan menuju ke daerah Temanggung di tahun 1867. Pada waktu itu, Prof Jacob F. Klinkhamer ditugaskan sebagai perancang dalam pembangunan jalur tersebut.

Dalam proses melakukan perancangan, semuanya dilakukan di negara Belanda untuk pada akhirnya jika sudah selesai kemudian diberikan ke kota Semarang. Sedangkan untuk pusat NIS sendiri, berada di sebuah bangunan dengan luas cukup besar serta adanya dua lantai membentuk huruf L. Untuk mendirikan banyak bangunan di Semarang kantor pusat NIS perlu membuat beragam bangunan publik serta perumahan juga di sekitar kisah lawang sewu.

Jika pada awalnya kantor kereta api tersebut berpusat di Semarang, namun karena adanya beberapa perkembangan jaringan kereta api menuntut tempat tersebut juga harus mengikuti perkembangan ada. Bahkan untuk saat ini, NIS menjadi tidak memadai, mengharuskan adanya bangunan kantor lainya bagi para pegawai NIS tersebut untuk menempati wilayah baru.

Mengungkap Rahasia dari Fungsi Masing-masing Ruangan

Menjadi sebuah saksi pada saat kelamnya penjajahan, maka bangunan kisah lawang sewu satu ini memiliki beberapa fungsi tersendiri untuk masing-masing ruangannya. Bahkan, ada ruangan yang juga kerap digunakan sebagai tempat tahanan dan untuk menyiksa para warga Indonesia. Sehingga tempat itu menjadi angker hingga saat ini.

Fungsi yang dimiliki oleh ruangan ada dalam bangunan tersebut diantaranya adalah, pertama sebagai ruang berdirinya penjara. Banyak tahanan ditampung dalam penjara tersebut. Lalu dimasukkan dalam keadaan yang saling berdesakan antara satu sama lainya. Dengan adanya kejadian itu, banyak pula dari tahanan kelelahan serta kekurangan oksigen, hingga pada akhirnya meninggal.

Kemudian, ada juga penjara yang mengharuskan para tahanannya untuk terus berjongkok. Karena tinggi bangunannya hanya beberapa centimeter saja. Dengan kondisi seperti itu, tahanan dipaksa untuk berjongkok, dapat dibayangkan betapa susahnya perjuangan dan penderitaan para warga Indonesia pada jaman dahulu dalam kisah lawang sewu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Tidak Kalah Menarik