Situs web kami menggunakan cookie untuk meningkatkan dan mempersonalisasi pengalaman Anda dan untuk menampilkan iklan (jika ada). Situs web kami mungkin juga menyertakan cookie dari pihak ketiga seperti Google Adsense, Google Analytics, Youtube. Dengan menggunakan situs web, Anda menyetujui penggunaan cookie. Kami telah memperbarui Kebijakan Privasi kami. Silakan klik tombol untuk memeriksa Kebijakan Privasi kami.

Mencicipi Lezatnya Mendhoan Kota Purwokerto Sebagai Makanan Pendamping Kopi

Jangan pernah ragukan kelezatan mendhoan kota Purwokerto yang menjadi kuliner wajib wisatawan luar kota untuk dicicipi. Sudah banyak dibuktikan orang-orang. Bila membuat mendhoan, pasti tidak seenak orang ngapak membuatnya.

Karena hal tersebut, banyak orang luar kota juga heran, padahal bumbu yang dibuat itu sama. Tapi kenapa bisa rasanya berbeda dengan mendhoan asli kota ngapak tersebut? Kemungkinan karena tempenya dan metode menggorengnya salah.

Jika kamu pernah datang ke Banyumas dan makan mendhoan kota Purwokerto, wajib untuk membaca artikel ini. karena kami akan membahasnya lebih detail bagaimana asal-usul mendhoan sebenarnya serta bagaimana cara membuatnya.

Asal-Usul Mendhoan Kota Purwokerto yang Lezat

Jika bertanya, kenapa mendhoan kota Purwokerto selalu bikin nagih? Bahkan bila memakannya dalam satu porsi saja untuk diri sendiri, dirasa kurang. Apalagi jika disandingkan dengan kopi, pasti akan sangat nikmat.

Tapi bagaimana dengan asal-usul makanan dari tempe ini hingga sekarang sudah banyak orang tahu di luar kota? Sebelumnya, kita bahas dari segi asal mula namanya dulu. Dari kata mendhoan kita bisa mengambil kata mendho.

Mendho sendiri merupakan bahasa Jawa ngapak Banyumas yang artinya setengah matang. Jika diartikan lagi lebih lengkap, mendhoan kota Purwokerto adalah tempe yang diiris tipis, serta digoreng dengan tepung setengah matang.

Berbeda dengan gorengan yang terdengar kriuknya ketika dimakan, mendhoan itu dimakan tepungnya masih lembek. Tapi entah kenapa rasanya memang sungguh nikmat. Kamu yang sudah pernah mencicipinya, pasti tahu rasanya.

Selain itu, tempe yang dibuat memang khas dari Banyumas. Kota ngapak ini memang memiliki jenis dengan cita rasa berbeda dari tempe dari kota mana saja.

Sebab, kebanyakan di Kabupaten Banyumas, pengrajin tempe biasanya rumahan dan menggunakan cara manual. Tidak ada banyak campuran dalam pembuatan tempe tersebut.

Tidak salah, bila rasanya begitu nikmat dan tidak ada rasa asam. Malah dirasa seperti makan daging. Lalu, bagaimana orang luar kota bila ingin memasak mendhoan kota Purwokerto?

Tenang saja, sekarang orang luar kota bisa menikmatinya karena sudah dibuat versi oleh-oleh. Tempenya akan dibungkus dengan pembungkus tertentu agar tidak busuk di jalan. Sementara bumbunya bisa bertahan 3-5 hari.

Luar kota yang dimaksud, harus masih di pulau Jawa. Kalau luar pulau, tidak bisa karena nantinya bumbu dan tempe akan busuk di jalan selama proses pengiriman.

Cara Membuat Mendhoan yang Enak

Mungkin Anda juga penasaran, bagaimana cara membuat mendhoan kota Purwokerto yang benar itu seperti apa. Memang, sekarang sudah ada banyak bumbu mendhoan instan. Tapi paling enak memang membuat sendiri.

Ingat, tempe yang digunakan itu jangan terlalu matang fermentasinya. Lebih bagus lagi, masih fresh memulai fermentasi, sekitar 2 malam dari waktu pembuatan juga masih enak.

Untuk cara memasaknya, silakan untuk simak tutorial berikut, agar bisa membuat sendiri di rumah :

A. Bahan-Bahan

• Tempe

• Tepung terigu

• Daun bawang

• Bawang putih

• Merica

• Lada

• garam

• Bumbu penyedap rasa

B. Cara Membuat

• Silakan iris tempe membentuk kartu ATM yang tipis-tipis.

• Ulek bumbu halus, seperti bawang putih, merica, lada, dan garam. Itu diulek halus

• Bumbu halus tersebut, masukkan ke dalam tepung yang sudah di dalam mangkok. Siram dengan air secukupnya hingga tekstur seperti bubur yang sedikit encer.

• Masukkan irisan daun bawang dan juga bumbu penyedap rasa

• Masukkan tempe ke adonan lalu goreng setengah matang.

Bila sudah matang, silakan untuk hidangkan dengan sambal kecap atau cabai rawit hijau dalam keadaan masih panas. Sangat lengkap rasanya bila menikmati mendhoan kota Purwokerto dengan kopi atau teh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Tidak Kalah Menarik