Situs web kami menggunakan cookie untuk meningkatkan dan mempersonalisasi pengalaman Anda dan untuk menampilkan iklan (jika ada). Situs web kami mungkin juga menyertakan cookie dari pihak ketiga seperti Google Adsense, Google Analytics, Youtube. Dengan menggunakan situs web, Anda menyetujui penggunaan cookie. Kami telah memperbarui Kebijakan Privasi kami. Silakan klik tombol untuk memeriksa Kebijakan Privasi kami.

Menelisik Sejarah Wisata Benteng Tujuh yang Penuh Misteri

Salah satu yang menjadi seru diperbincangkan adalah mengenai wisata, termasuk sejarah wisata benteng tujuh dengan berbagai pesona dan misteri di belakangnya. Para traveler yang sering mengunjungi berbagai situs sejarah tentunya juga sudah tidak asing lagi mengenai hal ini. Namun jika belum mengetahuinya, maka tempat ini bisa menjadi satu rekomendasi untuk berlibur.

Kota wisata sejarah ini bertempat di Rokan Hulu, sebuah daerah terletak di Riau. Di daerah ini pula dulunya terdapat salah seorang pahlawan nasional sudah harum mengiringi Indonesia, yakni Tuanku Tambusai. Bahkan bangunan ini juga dibangun semasa penjajahan Belanda, juga untuk mengenang salah satu pahlawan nasional tersebut.

Tempat yang berada dalam kecamatan Tambusai Utara, mempunyai luasa benteng sebesar 3 hektar. Dengan dibangunnya benteng ini, menjadi sebuah sejarah wisata benteng tujuh guna mengenang jasa dari Tuanku Tambusai beserta beberapa bala sekutunya. Karena dengan adanya bangunan, menjadi sebuah bukti dalam pengusiran Belanda pernah menjajahi tanah Melayu.

Kisah Pembangunan Benteng Tujuh Sebagai Simbol Perjuangan

Para pengikut Tuanku Tambusai membangun sejarah wisata benteng tujuh ini tahun 1834. Bahan digunakan untuk membangun adalah berasal dari 7 tumpukan tanah dengan berketinggian sekitar 11 meter. Selain dibangun dengan tembok sangat tebal, benteng ini juga terdapat bambu berduri, serta parit memiliki kedalaman kurang lebih 10 meter.

Namun akhirnya pada tahun 1838, Belanda melakukan penyerangan hingga dapat merebut benteng ini. Penyerangan dilakukan oleh Belanda tersebut dilakukan secara habis-habisan sampai bisa dikuasai oleh mereka. Dengan adanya perebutan bangunan oleh Belanda tersebut, menjadi akhir dari peperangan pederi yang dilaksanakan pada seluruh wilayah di Minangkabau.

Akhirnya dengan adanya kejadian tersebut, Tuanku Tambusai meninggalkan benteng tujuh di tanggal 28 Desember 1839. Beliau diketahui telah meninggal di Negeri Sembilan, Malaysia. Beberapa benteng lainya yang dapat ditemukan di kawasan ini juga sangat banyak, masyarakat di daerah tersebut menyebutnya dengan menyebutnya sebagai Kubu. Hadirnya beberapa benteng itu menjadi sebuah bukti adanya sikap patriotisme dari para pahlawan Indonesia.

Untuk saat ini, tempat wisata satu ini seharusnya menjadi lebih diperhatikan oleh pemerintah. Karena diduga kondisinya yang kurang terawat, padahal aslinya memiliki pemandangan yang indah, sekaligus dapat menjadi tempat untuk mengenang pahlawan bagi anak-anak mudah sekarang. Selain itu, tempat sejarah wisata benteng tujuh sudah ditetapkan sebelumnya menjadi tempat cagar budaya Indonesia, sayang sekali jika tidak terawat dengan baik.

Merawat dan Melestarikan Tempat Wisata Sejarah

Menjadi salah satu tempat cagar budaya di Indonesia, sudah selayaknya tempat sejarah wisata benteng tujuh ini mendapatkan perawatan khusus agar menjadi tempat yang indah untuk dikunjungi. Karena di dalamnya sendiri juga menyimpan sejarah yang cukup dalam, bahkan berkaitan dengan perjuangan kemerdekaan Indonesia sendiri. Dengan melakukan perawatan terhadap situs sejarah ini, sama halnya dengan mempertahankan nilai budaya di Indonesia.

Lewat anggaran yang ditetapkan oleh pemerintah di tahun 2016 sendiri, anggaran tersebut telah dialokasikan sebagai modal perawatan daerah bangunan tersebut. Pelestarian fokus dilakukan pada zona-zona tertentu. Seperti zona penyangga, pengembangan, serta di zona penunjang. Banyak pihak juga yang dilibatkan dalam proses pelestarian ini, mulai dari akademisi, budayawan, konsultan, dan masih banyak lagi berbagai pihak lainya.

Bahkan dalam rencananya, pembangunan bangunan tersebut juga akan dilakukan pada kawasan yang berjarak 2 km dalam wilayah Benteng Tuanku Tambusai, serta penambahan berbagai diorama yang akan menunjukkan sejarah-sejarah yang pernah terjadi pada masa penjajahan, dan perjuangan dari Tuanku Tambusai beserta bala pengikutnya dalam sejarah wisata benteng tujuh ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Tidak Kalah Menarik