Situs web kami menggunakan cookie untuk meningkatkan dan mempersonalisasi pengalaman Anda dan untuk menampilkan iklan (jika ada). Situs web kami mungkin juga menyertakan cookie dari pihak ketiga seperti Google Adsense, Google Analytics, Youtube. Dengan menggunakan situs web, Anda menyetujui penggunaan cookie. Kami telah memperbarui Kebijakan Privasi kami. Silakan klik tombol untuk memeriksa Kebijakan Privasi kami.

Mengenal Lebih Dekat Tari Orek-orek Ngawi

Ngawi merupakan kota kecil yang berada di barat Provinsi Jawa Timur. Dikenal dengan slogan Kota Ramah, lagu Kartonyono Medot Janji, dan Tari Orek-orek Ngawi. Banyak tempat populer bagi orang di luar daerah seperti Benteng Pendem, Alas Ketonggo, Monumen Suryo, Museum Trinil, dll.

Untuk sebagian orang di luar daerah mungkin baru mendengar nama Tari Orek-orek. Atau malah bagi orang Ngawi sendiri juga baru tahu kalau di daerahnya memiliki kesenian tari. Untuk lebih terangnya bisa mengikuti pembahasan di bawah ini.

Sejarah Singkat Tentang Tari Orek-orek

Tari Orek-orek Ngawi diciptakan pada tahun 1983 oleh ibu Sri Widajati dengan mengangkat kembali kesenian orek-orek yang populer tahun 1940-1970an. Dibantu oleh Pemerintah Kabupaten Ngawi untuk merancangnya dengan melakukan penelitian dan wawancara pada seniman Orek-orek seperti Sakijo, Lamin, dan Sakimun.

Tari ini menggambarkan kegembiraan pemuda setelah melakukan kerja rodi (heerendiensten) era Hindia-Belanda. Saat itu pemuda Ngawi dipaksa untuk membangun bendungan dan jembatan. Setelah selesai bekerja, mereka melakukan berbagai pertujukan menari bersama untuk melepas rasa lelah.

Ada 3 alasan kesenian ini dinamakan Tari Orek-orek: Bentuk kesenian morak-marik (beraneka ragam/campur aduk), kesenian ini menggunakan Gending Orek-orek, dan wajah pemain diorek-orek (dicoret-coret).

Pertunjukkan dari Tari Orek-orek

Tari Orek-orek Ngawi biasanya dipentaskan dalam beberapa acara seperti penyambutan tamu, memperingati Hari Kemerdekaan, pernikahan, dan hari-hari besar nasional. Ada 3 komponen penting dari tarian ini seperti penari, pengrawit dan sinden.

  1. Penari

Penari adalah orang yang melakukan tarian. Jumlah penari Orek-orek bisa dilakukan 2 orang berpasangan laki-laki dan perempuan dan banyak orang berjumlah 4 sampai 10 yang terbagi dari perempuan dan laki-laki. Pakaian disesuaikan dengan cerita yang dibawakan untuk laki-laki, sedangkan perempuan memakai pakaian Gambyong tari Jawa.

  1. Pengrawit

Pengrawit adalah orang yang memainkan gamelan atau alat karawitan. Tari Orek-orek Ngawi sendiri menggunakan musik laras slendro. Ada beberapa alat gamelan seperti Bonang Barung, Saron Penerus, Kendhang, Kempul, Gong, Keprak/Kecrek, dan Drum.

  1. Sinden

Sinden merupakan penyanyi yang mengiringi orkestra gamelan. Lagu pakem yang dinyanyikan sinden dalam tari ini yaitu lagu orek-orek.

Lirik lagu Orek-orek:

Orek-orek puniki kesenian saking Ngawi
Pramiyarsa kakung putri wit kina nganti saiki
Aduh Gusti mugi-mugi antuk berkahing Hyang Widhi
Eoe ae oe ea eo, eoe ea eo ea eo

Kagunan langen beksa wehluhuring budaya
Nadyan amung sepala rasane kok mirasa
Pra kanca ama karya dimen lestari widada
Tuwa mudha gotong-royong saiyek saekapraya
Eoe ae oe ea eo, eoe ea eo ea eo

Dst.

Gerakan Tari Orek-orek

Seperti tarian lainnya, Tari Orek-orek Ngawi juga memiliki gerakannya sendiri. Urutan gerakan tersebut seperti Sembahan, Lampah lambehan, Kencrongan, Lawungan, Srisikan I, Mususi, Genjlengan, Lintangan, Alihan, Ogek tawing, Laku telu, Miwir sampur, Genjlengan II, Pondongan, Trap Gelung, Keplok Setan, Lampah lembehan, Ogek angguk, Srisik II dan Laku tawingan.

Nah, tarian ini merupakan jenis tari kreasi yang bercerita tentang kegembiraan pemuda setelah melakukan kerja rodi dalam membangun bendungan dan jembatan pada era Hindia-Belanda. Diciptakan pada tahun 1983 oleh Sri Widijajati dan dibantu oleh Pemerintah Kabupaten Ngawi dalam merancangnya.

Tari ini menggunakan musik laras slendro. Dalam pementasannya ada 3 komponen penting dalam tari ini seperti penari, pengrawit, dan sinden. Walau ada juga dalam pementasan Tari Orek-orek Ngawi hanya menggunakan penarinya sedangkan pengrawit dan sinden diganti menggunakan rekaman audio.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Tidak Kalah Menarik