Situs web kami menggunakan cookie untuk meningkatkan dan mempersonalisasi pengalaman Anda dan untuk menampilkan iklan (jika ada). Situs web kami mungkin juga menyertakan cookie dari pihak ketiga seperti Google Adsense, Google Analytics, Youtube. Dengan menggunakan situs web, Anda menyetujui penggunaan cookie. Kami telah memperbarui Kebijakan Privasi kami. Silakan klik tombol untuk memeriksa Kebijakan Privasi kami.

Mengenal Tradisi Dugderan di Semarang untuk Jelang Ramadhan

Tradisi Dugderan di Semarang adalah suatu warisan budaya lokal yang masih bertahan hingga saat ini. Kalau kamu berniat untuk plesir ke Semarang, pertimbangkan untuk datang menjelang bulan suci Ramadhan.

Ini karena pesta Dugderan memang diadakan menjelang Ramadhan setiap tahunnya sehingga menjadi ciri khas tersendiri di Kota Atlas tersebut. Semarang memang menjadi salah satu destinasi di Jawa Tengah bagi wisatawan lokal maupun mancanegara.

Meskipun popularitasnya sebagai kota wisata masih kalah dari Yogyakarta, namun keindahan dan daya tariknya tidak bisa diremehkan. Kota ini menawarkan beragam jenis wisata. Mulai dari wisata alam, kuliner, wahana, sejarah, hingga budaya.

Nah, kalau kamu tertarik dengan budaya lokal yang ada di Semarang, tidak ada salahnya menghadiri tradisi Dugderan. Lantas, seperti apa, sih, tradisi ini dan apa saja yang membuatnya menarik? Ini jawabannya.

Tradisi Dugderan di Semarang, Karnaval Menyambut Ramadhan

Setiap tahunnya, umat Islam di dunia selalu menantikan datangnya bulan Ramadhan dan menyambutnya dengan sukacita. Masyarakat Semarang memiliki cara tersendiri untuk menyambut kedatangan bulan mulia tersebut. Yaitu mengadakan pesta rakyat khusus.

Pesta rakyat tersebut dinamakan Dugderan yang berasal dari kata ‘dug’ dan ‘deran’. Kata ‘dug’ menggambarkan bunyi bedug yang dipukul. Sedangkan kata ‘deran’ menggambarkan bunyi petasan dan kembang api untuk menambah semarak.

Tradisi ini pertama kali digelar pada tahun 1881 yang diinisiasi oleh Raden Mas Tumenggung Arya Purbaningrat, Bupati Semarang saat itu. Dugderan adalah acara yang dihelat layaknya pesta rakyat bagi warga Semarang.

Pada perhelatan tradisi Dugderan di Semarang, kamu akan disuguhi berbagai pertunjukan menarik. Misalnya festival arak-arakan Warak Ngendog, tarian tradisional, hingga pasar rakyat yang menyajikan beragam kuliner khas.

Awalnya pesta rakyat ini berpusat di sekitar Masjid Agung Jawa Tengah dan Masjid Kauman. Namun saat ini tempat pelaksanaannya dialihkan ke daerah Simpang Lima. Setiap tahunnya, warga setempat berbondog-bondong ikut menyemarakkan tradisi ini.

Kalau kamu ingin berpartisipasi dalam kemeriahan Dugderan, datanglah menjelang bulan puasa. Karena festival rakyat ini hanya diadakan satu kali setahun, yakni sehari menjelang Ramadhan.

Mengenal Warak Ngendog yang Legendaris

Salah satu rangkaian acara dalam perayaan Dugderan adalah festival Warak Ngendog. Warak Ngendog sendiri adalah binatang imajiner dengan tubuh menyerupai kambing, sementara kepalanya berbentuk seperti naga.

Warak Ngendog dalam tradisi Dugderan di Semarang adalah representasi bergamnya masyarakat kota tersebut. Tubuh kambing melambangkan masyarakat Jawa yang merupakan penduduk asli. Sedangkan kepala naga adalah simbol bagi warga keturunan Tionghoa.

Warak Ngendog adalah perlambang bahwa Semarang menjadi kota dimana warga dari berbagai latar belakang suku dapat hidup berdampingan secara rukun. Karnaval ini diikuti oleh Walikota beserta istri yang ikut serta dalam arak-arakan.

Walikota dan istri mengenakan pakaian adat Jawa sekaligus menjadi pemimpin acara tersebut. Dalam acara ini, setiap daerah mengirimkan perwakilan pasukan dengan ikon Warak Ngendog berukuran besar.

Pembukaan karnaval diawali dengan upacara dan dimeriahkan oleh penampilan para penari serta arak-arakan Warak Ngendog. Walikota memberikan sambutan dalam bahasa Jawa. Kemudian bersama arak-arakan melewati rute dan finish di Masjid Kauman.

Masjid Kauman sendiri adalah masjid tertua di Kota Semarang sehingga sangat bersejarah bagi umat Islam khususnya warga ibukota Jawa Tengah tersebut. Sesampainya di Masjid Kauman, Walikota beserta rombongan arak-arakan akan disambut oleh Gubernur.

Walikota dan Gubernur dalam kesempatan tersebut menyampaikan wejangan dan ucapan selamat berpuasa bagi masyarakat menggunakan bahasa Jawa. Kemeriahan acara tersebut masih bertahan hingga saat ini sebagai salah satu warisan kearifan lokal.

Semarang bukan hanya kota yang terkenal akan kelezatan lumpianya. Selain Lawang Sewu dan Kota Lama, tidak ada salahnya melihat dan menghadiri langsung budaya tradisi Dugderan di Semarang yang legendaris.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Tidak Kalah Menarik